Puisi "Bagaikan Batu"
27/12/2015_05:10"
ku hehtakkan dengan syair,
ku hentakan dengan kata-kata,
ku hentakan pujian dan nyanyian merdu,
kau tetap diam sepeti batu,
ku hentakan dengan kata-kata,
ku hentakan pujian dan nyanyian merdu,
kau tetap diam sepeti batu,
ku rubah haluan perdamaian
ku keluarkan makian,
ku nyanyikan sindiran,
eeehhh,,,, kau malah jadi batu,bagaikan kaba legenda pantai air manis
ku keluarkan makian,
ku nyanyikan sindiran,
eeehhh,,,, kau malah jadi batu,bagaikan kaba legenda pantai air manis
hujan menyerbu dan panas
matahari menikam,
mereka berteriak dari mimbar agama, kau tersenyum,
kami kebingungan, menangis dan tertawa perih, banyak warna suci kau nodai,
dan kini kau semakin tangguh tak retak sedikit pun,
mereka berteriak dari mimbar agama, kau tersenyum,
kami kebingungan, menangis dan tertawa perih, banyak warna suci kau nodai,
dan kini kau semakin tangguh tak retak sedikit pun,
Tuhan,,, mengapa ini
terjadi di Negara ku
Doa, syair, kata makian, ceramah telah bersatu, malah’ lahir telur busuk,
kami kehilangan akal, kami terpuruk kau malah menjadi panutan,
kami tak memgerti sehitam apa hatimu, kau patahkan kuntum bunga Indonesia,
Doa, syair, kata makian, ceramah telah bersatu, malah’ lahir telur busuk,
kami kehilangan akal, kami terpuruk kau malah menjadi panutan,
kami tak memgerti sehitam apa hatimu, kau patahkan kuntum bunga Indonesia,
apakah kamu meliliki agama,
apakah kamu memiliki hati,
mungkin telah teracuni oleh kertas mahal, dan kini menjadi pabrik hitam,
masih adakah kesempatan bertaubat setelah kau sesatkan 7 keturunan,
apakah kamu memiliki hati,
mungkin telah teracuni oleh kertas mahal, dan kini menjadi pabrik hitam,
masih adakah kesempatan bertaubat setelah kau sesatkan 7 keturunan,
kami harus bagaimana,
kenapa ini terjadi diselimut 'Merah Putih'
ampuni kami, kami tak tahu
bagaimana lagi,,,,
taubat, taubat
taubaaaaaattttt,,,
Mohd Zainal Bin Abdul Karim
Conanzainal.mohd@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar